Nitrit (NO2)
Nitrit (NO2) merupakan bentuk peralihan antara
ammonia dan nitrat (nitrifikasi) dan antara nitrat dengan gas nitrogen (denitrifikasi) oleh karena itu, nitrit
bersifat tidak stabil dengan keberadaan oksigen. Kandungan nitrit pada perairan
alami mengandung nitrit sekitar 0.001 mg/L. kadar nitrit yang lebih dari 0.06
mg/L adalah bersifat toksik bagi organisme perairan. Keberadaan nitrit
menggambarkan berlangsungnya proses biologis perombakan bahan organik yang
memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah. Nitrit yang dijumpai pada air
minum dapat berasal dari bahan inhibitor korosi yang dipakai di pabrik yang
mendapatkan air dari sistem distribusi PDAM.
Nitrit juga bersifat racun karena dapat bereaksi dengan
hemoglobin dalam darah, sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen,
disamping itu juga nitrit membentuk nitrosamin (RRN-NO) pada air buangan
tertentu dan dapat menimbulkan kanker. Nitrat (NO3-)
dan nitrit (NO2-) adalah ion-ion anorganik alami, yang
merupakan bagian dari siklus nitrogen. Aktifitas mikroba di tanah atau air
menguraikan sampah yang mengandung nitrogen organik pertama-pertama menjadi
ammonia, kemudian dioksidasikan menjadi nitrit dan nitrat. Oleh karena nitrit
dapat dengan mudah dioksidasikan menjadi nitrat, maka nitrat adalah senyawa
yang paling sering ditemukan di dalam air bawah tanah maupun air yang terdapat
di permukaan. Pencemaran oleh pupuk nitrogen, termasuk ammonia anhidrat seperti
juga sampah organik hewan maupun manusia, dapat meningkatkan kadar nitrat di
dalam air. Senyawa yang mengandung nitrat di dalam tanah biasanya larut dan
dengan mudah bermigrasi dengan air bawah tanah.
Metode Analisa Nitrit
(NO2)
1.
Metode Nessler
Kadar nitrit dapat diukur dengan menggunakan metode Nessler kualitatif dan
kuantitatif. Dimana metode nessler kualitatif yaitu dengan cara menggunakan asam sulfonil dan napthyl amine. Dimana warna sampel
dibandingkan dengan warna larutan standart atau larutan stock nitrit. Warna sampel yang
paling mendekati warna larutan stock nitrit itulah yang paling tinggi kadar nitritnya.
2.
Metode Spektrofotometri
Metode Nessler
secara kuantitatif yaitu dapat digunakan dengan spektrofotometri. Alat yang digunakan adalah spektrofotometri
UV-Visible pada PH 2,0-2,5, nitrit berkaitan dengan hasil reaks antara diazo
asam sulfanilik dengan N-(1-Naftol)- etil endiamin (yaitu NED Dihidroklorida),
maka dapat dibentuk celupan yang berwarna ungu kemerah-merahan. Warna tersebut
mengikuti hukum Lambert-Beer dan dapat menyerap sinar dengan panjang gelombang
543 nm. Metode ini sangat akurat dan peka sehingga perlu adanya pengenceran
sampel.
Kelebihan Dan Kelemahan Metode Analisa Nitrit
(NO2)
1.
Metode Nessler
Kelebihannya adalah waktu pengerjaannya lebih singkat karena hanya
membandingkan warna sampel dengan warna larutan stock (NO2) sedangkan
kelemahannya adalah hasil yang diperoleh kurang
akurat.
2.
Metode Spektrofotometri
Kelebihannya
adalah hasil yang diperoleh lebih akurat karena dilakukan dua kali pengerjaan
dimana pertama dilakukan penambahan asam
sulfonil kedalam sampel dicampurkan dengan napthyl amine
maka akan terbentuk warna lembayung,
dan warna inilah yang diukur dengan spectrometer pada panjang gelombang 543 nm. Setelah itu dapat
dihitung dengan deret standart yang telah diketahui kadarnya dan dapat dihitung
secara regresi linier. Dan kelemahannya dalam
pengerjaannya lebih lama daripada metode nessler secara kualitatif
karena pengujian pada metode nessler secara kuantitatif dua kali pengerjaan.
Penanggulangan Kelebihan
Kadar Nitrit
Keberadaan nitrit menggambarkan berlangsungnya proses biologis
perombakan bahan organik yang memiliki kadar oksigen terlarut yang rendah.
Nitrit yang dijumpai pada air minum dapat berasal dari bahan inhibitor korosi
yang dipakai di pabrik yang mendapatkan air dari sistem distribusi PDAM. Nitrit
juga bersifat racun karena dapat bereaksi dengan hemoglobin dalam darah,
sehingga darah tidak dapat mengangkut oksigen, disamping itu juga nitrit
membentuk nitrosamin (RRN-NO) pada air buangan tertentu dan dapat menimbulkan
kanker. Nitrat (NO3-) dan nitrit (NO2-)
adalah ion-ion anorganik alami, yang merupakan bagian dari siklus nitrogen.
Kelebihan kadar NO2 dapat dikurangi ataupun dihilangkan dengan cara
:
1. Pemberian
Aerasi.
Aerasi adalah
suatu teknik memancarkan air ke udara agar air terkena kontak dengan
udara/oksigen. Semakin banyak permukaan air yang terkena oksigen maka semakin
baik.
1.
Proses
Presipitasi.
Biasa dilakukan untuk menghilangkan logam-logam berat, nutrien
serta anorganik yang terlarut dalam limbah cair. Caranya : pH limbah awal
biasanya sekitar 8-9, dinaikkan dengan menambahkan basa hingga
mencapai 11 satuan pH, hingga terbentuk endapan. Sebelum dilakukan percobaan
sebaiknya dilakukan trial untuk mendapat kan kondisi operasi yang optimal. Juga
perlu dicarikan kombinasi zat pengemban koagolasi, sehingga proses
pengendapannya bisa lebih sempurna hingga terjadi coo-presipitasi.
2.
Chlorinasi dengan Aerasi
Biasanya dilakukan penambahan Calsium Hypo Chloride disertai
dengan aerasi, disamping terjadi pergeseran keseimbangan amonia didalam limbah
juga terjadi proses desinfeksi. Calsium Hypo Chloride adalah oksidator kuat
yang akan menghancurkan reduktor-reduktor dari zat-zat organik termasuk amoniak
dan nitrit juga akan membunuh bakteri-bakteri pathogen yang ada
dalam air. Pengunaan teknik ini harus hati-hati dan mengunakan alat PPE(
Personal Protective Equipment ) yang memadai, seperti respirator dan
sarung tangan polyetilene. Gas klor akan sangat berbahaya jika terhirup
oleh pernafasan dan akan merusak alveoli paru-paru.
3.
Unit Lumpur Aktif dengan
Sistem Aerasi
Mengunakan mikroba yang telah terseleksi yang cocok dengan
kontaminan limbah yang ada, yang dikembangkan dari limbah itu sendiri. Diberi
aerasi mengunakan blower dan udara dialirkan melalui
difusser agar distribusi oksigen lebih lebih merata atau dengan
mengunakan turbo jet aerator/surface aerator/MTO2 ( poros baling-baling
berputar yang menghasilkan gerakan turbulensi yang pada akhirnya menghasilkan
gelembung-gelembung halus yang meningkatkan kadar oksigen terlarut di semua
bagian kolam aerasi. , kandungan oksigen terlarut minimal 2 ppm (kebutuhan
minimal agar bakteri/mikroorganisme bisa hidup). Prinsipnya : Dengan
adanya udara (oksigen) bakteri aerobik akan memakan zat-zat organik
dalam air, selanjutnya bakteri tersebut berkembang biak.
4.
Cara lain yaitu: penguapan, reaksi kimia dengan oksigen dan penggantian
air.